Di tengah keterbatasan nya,pria ini masih sanggup berbuat baik untuk semua orang.
Seorang pria dengan muka keriput dan tak jarang tersengat teriknya matahari setia mengayuh becak dengan berselimut debu jalanan. Ia adalah Salim Ruhmana,
pria berusia 62 tahun yang akrab disapa dengan Pak Salim ini tinggal di sebuah kontrakan kecil di Jalan M. Al-Ikhlas, Kampung Utan, Ciputat Timur, Jakarta.
Menyusuri rumahnya melewati gang kecil, reporter esqmagazine.com berkesempatan berkunjung ke rumahnya. Meski usianya tak lagi muda, namun semangat Salim masih tetap terjaga. Di usia yang semakin senja, ia mempunyai keinginan luhur yaitu mengabdikan diri untuk umat. Satu keinginannya yang mulia yakni mendirikan sebuah sekolah (madrasah) di kampungnya yang terletak di Dusun Karangcengek, Desa/Kec. Pamarican, Ciamis, Jawa Barat.
Pria yang kesehariannya mangkal di samping Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta ini berupaya mendirikan sebuah madrasah. Tentu untuk mewujudkannya tak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Berbagai cara ia lakukan, salah satunya dengan mencari donatur untuk membantu pembangunan madrasah.
Semua berawal ketika di kampungnya, ia melihat anak-anak berduyun-duyun bermain bersama di sore hari. Ia penasaran ingin melihat apa yang dilakukan anak-anak itu di sore hari. Salim merasa terketuk hatinya melihat anak-anak belajar bersama di salah satu rumah tetangganya. Kegiatan belajar mengajar ini digagas oleh tetangganya yang menginginkan adanya pendidikan bagi anak-anak di Dusun Karangcengek.
Apa yang dilihatnya sangat menggugah hatinya. Ia tak ingin kegiatan belajar-mengajar itu hanya bersifat sementara. Impiannya mendirikan ruang belajar yang lebih baik terus berkecamuk dalam pikirannya. Menyadari kondisinya hanya sebagai tukang becak dengan penghasilan rata-rata sekitar Rp 20.000 per hari, akhirnya memunculkan ide untuk menghimpun sumbangan.
Sambil menarik becak, ia ungkapkan rencana membangun madrasah kepada para pelanggannya, dengan menunjukkan dokumen-dokumen dan foto-foto.
Suatu hari di tahun 2003, Salim mendapat pelanggan seorang anak SMP. Anak itu mengenalkan Salim kepada ayahnya. Setelah kenal cukup lama, Salim menyampaikan keinginannya membangun madrasah kepada ayah pelanggannya tersebut.
Bak gayung bersambut, ayah dari anak itu ternyata bersedia membantu Salim. Salim pun mengajaknya ke lokasi rencana pembangunan madrasah di Dusun Karangcengek, Desa, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Salim pun diminta membuat proposal pengajuan dana untuk membangun madrasah. Singkat cerita, dana yang berhasil dicairkan sebesar Rp 121 juta.
Tahap demi tahap pembangunan madrasah pun dimulai. Madrasah yang dinamakan Madrasah Diniyah Awaliyah Nurul Hidayah itu pun sudah berdiri pada 2003. Meski begitu, pembangunan Madrasah Diniyah masih dirasakan sangat kurang, karena belum adanya perlengkapan belajar mengajar yang mendukung, seperti meja dan bangku. Alhasil para siswa belajar tanpa didukung meja dan bangku sekitar enam tahun lamanya.
Bermodal semangat dan keyakinan, Salim tak patah arang. Ia justru kembali ke Jakarta untuk mengayuh becak seperti biasa, sambil mencari donatur. Salim bahkan pernah berhutang untuk biaya pembangunan madrasah. Setiap kali ke Ciamis, Salim selalu membawa dana untuk pembangunan madrasah. Dirasakan oleh Salim, Allah SWT selalu memudahkan jalannya, dengan adanya donatur yang bersedia membantu.
Sepak terjangnya kemudian menarik perhatian masyarakat. Beberapa media bahkan pernah meliput kiprahnya. Pengabdiannya di dunia pendidikan juga menggugah Perum Pegadaian. Tahun lalu Perum Pegadaian memberikan bantuan berupa dana pembangunan gedung, meja, bangku, pakaian, tas, lemari, papan tulis, korden, komputer, pompa air, dan dana operasional untuk satu tahun.

Kini Madrasah Diniyah Awaliyah Nurul Hidayah telah berganti nama menjadi Madrasah Diniyah Takmiliyah Awwaliyah Nurul Hidayah. Salim sebagai pendiri madrasah juga berperan sebagai pengawas. Meski begitu, Salim tetap menjalani kesehariannya sebagai pengayuh becak.
Dalam sehari, Salim bisa mengayuh becak sampai tiga kali. Dimulai dari pukul 8.30 pagi sampai waktu shalat dzuhur pukul 12.00. Usai shalat dzuhur dilanjutkan lagi sampai dengan waktu shalat asar pukul 15.00, kemudian dilanjutkan lagi sampai waktu shalat maghrib. Meski sudah lama mengayuh becak, ia tetap istiqomah menjalankan shalat lima waktu.
Tahun demi tahun dilewatinya, usia pun sudah semakin tua. Usia terkadang membuatnya hanya bisa mengayuh becak sekali dalam sehari, bahkan jika kurang sehat ia sama sekali tidak mengayuh becak. Banyak suka duka yang dialaminya, terutama duka ketika harus memikirkan bagaimana caranya memperoleh beras untuk makan sehari-hari.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Salim ditemani isteri dan anak bungsunya membuka warung kecil. Salim meyakini, Allah akan memberikan rezeki kepada hambanya yang mau berusaha. Ia memaknai pekerjaannya sebagai pengayuh becak dan mendirikan madrasah hanya karena ibadah kepada Allah semata.
Karena sepak terjangnya itu, ia berkesempatan untuk mengikuti training ESQ Peduli Pendidikan (PP) angkatan 36 di Menara 165, Jakarta yang telah terselenggara Selasa-Kamis (29-30 Juni-1 Juli).
"Selama training saya selalu mengeluarkan air mata. Saya berharap dengan ilmu yang didapat ini akan dapat disampaikan di madrasah," ungkap Salim yang merasa bersyukur dapat mengikuti training gratis untuk para guru itu.
Peran insan guru sebagai ujung tombak dan garda terdepan memiliki peran yang sangat strategis, yaitu mentransfer ilmu kepada anak didik. Hal ini disadari oleh Ketua Forum Komunikasi Alumni (FKA) ESQ Bidang Sosial Kemasyarakatan Lea Irawan. Training PP yang diikuti oleh Salim merupakan upaya FKA ESQ mewujudkan visi Indonesia Emas 2020 dengan nilai 7 Budi Utama (Jujur, tanggung jawab, visioner, disiplin, kerjasama, adil, dan peduli).
Menurut Lea Irawan, ESQ Peduli Pendidikan dan FKA ESQ akan menjadikan Diniyah Takmiliyah Awwaliyah Nurul Hidayah menjadi sekolah binaan Lembaga Kemanusiaan ESQ, dan akan mentrainingkan para gurunya.
Meskipun bekerja sebagai penarik becak, Salim telah menggabungkan tiga jenis kecerdasan, sehingga berhasil membangun sebuah sekolah bagi masyarakat sekitar. Karena itulah membangun sumber daya manusia dengan menggabungkan tiga kecerdasan IQ, EQ, dan SQ menjadi sangat penting
Seorang pria dengan muka keriput dan tak jarang tersengat teriknya matahari setia mengayuh becak dengan berselimut debu jalanan. Ia adalah Salim Ruhmana,
pria berusia 62 tahun yang akrab disapa dengan Pak Salim ini tinggal di sebuah kontrakan kecil di Jalan M. Al-Ikhlas, Kampung Utan, Ciputat Timur, Jakarta.
Menyusuri rumahnya melewati gang kecil, reporter esqmagazine.com berkesempatan berkunjung ke rumahnya. Meski usianya tak lagi muda, namun semangat Salim masih tetap terjaga. Di usia yang semakin senja, ia mempunyai keinginan luhur yaitu mengabdikan diri untuk umat. Satu keinginannya yang mulia yakni mendirikan sebuah sekolah (madrasah) di kampungnya yang terletak di Dusun Karangcengek, Desa/Kec. Pamarican, Ciamis, Jawa Barat.
Pria yang kesehariannya mangkal di samping Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta ini berupaya mendirikan sebuah madrasah. Tentu untuk mewujudkannya tak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Berbagai cara ia lakukan, salah satunya dengan mencari donatur untuk membantu pembangunan madrasah.
Semua berawal ketika di kampungnya, ia melihat anak-anak berduyun-duyun bermain bersama di sore hari. Ia penasaran ingin melihat apa yang dilakukan anak-anak itu di sore hari. Salim merasa terketuk hatinya melihat anak-anak belajar bersama di salah satu rumah tetangganya. Kegiatan belajar mengajar ini digagas oleh tetangganya yang menginginkan adanya pendidikan bagi anak-anak di Dusun Karangcengek.
Apa yang dilihatnya sangat menggugah hatinya. Ia tak ingin kegiatan belajar-mengajar itu hanya bersifat sementara. Impiannya mendirikan ruang belajar yang lebih baik terus berkecamuk dalam pikirannya. Menyadari kondisinya hanya sebagai tukang becak dengan penghasilan rata-rata sekitar Rp 20.000 per hari, akhirnya memunculkan ide untuk menghimpun sumbangan.
Sambil menarik becak, ia ungkapkan rencana membangun madrasah kepada para pelanggannya, dengan menunjukkan dokumen-dokumen dan foto-foto.
Suatu hari di tahun 2003, Salim mendapat pelanggan seorang anak SMP. Anak itu mengenalkan Salim kepada ayahnya. Setelah kenal cukup lama, Salim menyampaikan keinginannya membangun madrasah kepada ayah pelanggannya tersebut.
Bak gayung bersambut, ayah dari anak itu ternyata bersedia membantu Salim. Salim pun mengajaknya ke lokasi rencana pembangunan madrasah di Dusun Karangcengek, Desa, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Salim pun diminta membuat proposal pengajuan dana untuk membangun madrasah. Singkat cerita, dana yang berhasil dicairkan sebesar Rp 121 juta.
Tahap demi tahap pembangunan madrasah pun dimulai. Madrasah yang dinamakan Madrasah Diniyah Awaliyah Nurul Hidayah itu pun sudah berdiri pada 2003. Meski begitu, pembangunan Madrasah Diniyah masih dirasakan sangat kurang, karena belum adanya perlengkapan belajar mengajar yang mendukung, seperti meja dan bangku. Alhasil para siswa belajar tanpa didukung meja dan bangku sekitar enam tahun lamanya.
Bermodal semangat dan keyakinan, Salim tak patah arang. Ia justru kembali ke Jakarta untuk mengayuh becak seperti biasa, sambil mencari donatur. Salim bahkan pernah berhutang untuk biaya pembangunan madrasah. Setiap kali ke Ciamis, Salim selalu membawa dana untuk pembangunan madrasah. Dirasakan oleh Salim, Allah SWT selalu memudahkan jalannya, dengan adanya donatur yang bersedia membantu.
Sepak terjangnya kemudian menarik perhatian masyarakat. Beberapa media bahkan pernah meliput kiprahnya. Pengabdiannya di dunia pendidikan juga menggugah Perum Pegadaian. Tahun lalu Perum Pegadaian memberikan bantuan berupa dana pembangunan gedung, meja, bangku, pakaian, tas, lemari, papan tulis, korden, komputer, pompa air, dan dana operasional untuk satu tahun.
Kini Madrasah Diniyah Awaliyah Nurul Hidayah telah berganti nama menjadi Madrasah Diniyah Takmiliyah Awwaliyah Nurul Hidayah. Salim sebagai pendiri madrasah juga berperan sebagai pengawas. Meski begitu, Salim tetap menjalani kesehariannya sebagai pengayuh becak.
Dalam sehari, Salim bisa mengayuh becak sampai tiga kali. Dimulai dari pukul 8.30 pagi sampai waktu shalat dzuhur pukul 12.00. Usai shalat dzuhur dilanjutkan lagi sampai dengan waktu shalat asar pukul 15.00, kemudian dilanjutkan lagi sampai waktu shalat maghrib. Meski sudah lama mengayuh becak, ia tetap istiqomah menjalankan shalat lima waktu.
Tahun demi tahun dilewatinya, usia pun sudah semakin tua. Usia terkadang membuatnya hanya bisa mengayuh becak sekali dalam sehari, bahkan jika kurang sehat ia sama sekali tidak mengayuh becak. Banyak suka duka yang dialaminya, terutama duka ketika harus memikirkan bagaimana caranya memperoleh beras untuk makan sehari-hari.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Salim ditemani isteri dan anak bungsunya membuka warung kecil. Salim meyakini, Allah akan memberikan rezeki kepada hambanya yang mau berusaha. Ia memaknai pekerjaannya sebagai pengayuh becak dan mendirikan madrasah hanya karena ibadah kepada Allah semata.
Karena sepak terjangnya itu, ia berkesempatan untuk mengikuti training ESQ Peduli Pendidikan (PP) angkatan 36 di Menara 165, Jakarta yang telah terselenggara Selasa-Kamis (29-30 Juni-1 Juli).
"Selama training saya selalu mengeluarkan air mata. Saya berharap dengan ilmu yang didapat ini akan dapat disampaikan di madrasah," ungkap Salim yang merasa bersyukur dapat mengikuti training gratis untuk para guru itu.
Peran insan guru sebagai ujung tombak dan garda terdepan memiliki peran yang sangat strategis, yaitu mentransfer ilmu kepada anak didik. Hal ini disadari oleh Ketua Forum Komunikasi Alumni (FKA) ESQ Bidang Sosial Kemasyarakatan Lea Irawan. Training PP yang diikuti oleh Salim merupakan upaya FKA ESQ mewujudkan visi Indonesia Emas 2020 dengan nilai 7 Budi Utama (Jujur, tanggung jawab, visioner, disiplin, kerjasama, adil, dan peduli).
Menurut Lea Irawan, ESQ Peduli Pendidikan dan FKA ESQ akan menjadikan Diniyah Takmiliyah Awwaliyah Nurul Hidayah menjadi sekolah binaan Lembaga Kemanusiaan ESQ, dan akan mentrainingkan para gurunya.
Meskipun bekerja sebagai penarik becak, Salim telah menggabungkan tiga jenis kecerdasan, sehingga berhasil membangun sebuah sekolah bagi masyarakat sekitar. Karena itulah membangun sumber daya manusia dengan menggabungkan tiga kecerdasan IQ, EQ, dan SQ menjadi sangat penting
Tidak ada komentar:
Posting Komentar